Senin, 28 Mei 2012

Aku Si Pipit Kecil


Semua makhluk memiliki sebuah tujuan dalam hidupnya, begitu pula aku. Hanya saja aku belum menemukannya. Seandainya aku burung, aku adalah burung pipit kecil yang terbang dengan bingung. Burung lain juga sedang kebingungan. Kami terbang untuk mencari pohon kami masing masing, untuk tempat kami membuat sarang. Gagak, elang, kelelawar, bangau, dan aku, pipit kecil, tak dapat membuat sarang kami pada sebuah pohon. Kami memiliki pohon impian kami masing masing.
Suatu hari sang gagak, elang, kelelawar, dan bangau telah menemukan pohon mereka, tapi tidak denganku. Dengan suka cita mereka berkicau, berkoak, menyuarakan kebahagiaan mereka karena menemukan pohon mereka masing masing. Aku masih kebingungan, belum menemukan pohonku, bahkan untuk sekedar bertengger. Aku tetap terbang hingga hari terik. Akhirnya aku menemukan sebuah pohon rindang untuk berteduh. Sang pohon dengan kebaikannya membiarkanku menempati salah satu dahannya untukku membuat sarang nantinya. Ingin sekali rasanya aku berkicau karena aku menemukan sebuah pohon rindang di tengah terik matahari, tapi segera aku urungkan niatku. Pohon ini terlalu rindang untuk aku tempati sendiri. Dia masih punya banyak sekali dahan yang nyaman, yang mungkin saja dengan segala kebaikan hatinya akan membiarkan burung lain menempatinya. Ini mungkin bukan pohonku, bukan milikku sendiri.
Aku melihat burung pipit lain yang sedang kebingungan mencari sarang, seperti aku tadinya. Aku bertanya pada sang pohon apakah dia akan membiarkan burung pipit kecil yang lain menempati salah satu dahannya. Sang pohon dengan bijaksana menjawab, “sudikah kau berbagi dahan dengan pipit lain?” dalam hati aku berkata, sungguh aku tak ingin berbagi dahan dengan burung pipit kecil yang lain. Tapi aku memjawab sang pohon, “jika kau ingin memberikan dahanmu pada si pipit kecil yang lain, aku tak keberatan. Apakah kau akan memberikan salah satu dahanmu padanya?” Sang pohon menjawabku dengan senyuman. Dia tak melakukan apapun.

Minggu, 27 Mei 2012

Another me in a Normal Day

It is a normal day
I am wearing a normal T-shirt
In a very ordinary place
I am walking to a common bench,
Then find something peculiar.
It is another  me

Aku Merasa Bersalah Ketika Aku Menyukai

Bahkan Ketika aku duduk, memandang dia yang ada di depanku dengan perasaan gembira. terselip di sana perasaan bersalah yang samar. Aku membuatnya makin tersamar dengan memberi senyum samarku padanya. Ketika aku membuka lebar mataku, aku tak mengerti apa yang sebenarnya aku pandang. Sekarang aku sadar bahwa dulu aku bukan apa apa. Sekarang pun aku mungkin bukan apa apa jika aku melihatnya nanti, ketika aku berada di posisi 'nanti'. Melihat apa yang ada sekarang, membuatku merasa bangga telah memiliki kehidupan yang sempurna. Tubuhku bahkan jauh dari bekas luka, mataku jauh dari kegelapan, jiwaku jauh dari perasaan lelah. Ketika aku membaca, apa yang dia tulis, dan apa yang aku tulis sepertinya tak brarti. Aku merayap turun dari kata 'sempurna'ku. Sekarang aku merasa bersalah, ketika aku menyukai.