Semua makhluk memiliki sebuah tujuan
dalam hidupnya, begitu pula aku. Hanya saja aku belum menemukannya. Seandainya
aku burung, aku adalah burung pipit kecil yang terbang dengan bingung. Burung
lain juga sedang kebingungan. Kami terbang untuk mencari pohon kami masing
masing, untuk tempat kami membuat sarang. Gagak, elang, kelelawar, bangau, dan
aku, pipit kecil, tak dapat membuat sarang kami pada sebuah pohon. Kami
memiliki pohon impian kami masing masing.
Suatu hari sang gagak, elang,
kelelawar, dan bangau telah menemukan pohon mereka, tapi tidak denganku. Dengan
suka cita mereka berkicau, berkoak, menyuarakan kebahagiaan mereka karena
menemukan pohon mereka masing masing. Aku masih kebingungan, belum menemukan
pohonku, bahkan untuk sekedar bertengger. Aku tetap terbang hingga hari terik.
Akhirnya aku menemukan sebuah pohon rindang untuk berteduh. Sang pohon dengan
kebaikannya membiarkanku menempati salah satu dahannya untukku membuat sarang
nantinya. Ingin sekali rasanya aku berkicau karena aku menemukan sebuah pohon
rindang di tengah terik matahari, tapi segera aku urungkan niatku. Pohon ini
terlalu rindang untuk aku tempati sendiri. Dia masih punya banyak sekali dahan
yang nyaman, yang mungkin saja dengan segala kebaikan hatinya akan membiarkan
burung lain menempatinya. Ini mungkin bukan pohonku, bukan milikku sendiri.
Aku melihat burung pipit lain yang
sedang kebingungan mencari sarang, seperti aku tadinya. Aku bertanya pada sang
pohon apakah dia akan membiarkan burung pipit kecil yang lain menempati salah
satu dahannya. Sang pohon dengan bijaksana menjawab, “sudikah kau berbagi dahan
dengan pipit lain?” dalam hati aku berkata, sungguh aku tak ingin berbagi dahan
dengan burung pipit kecil yang lain. Tapi aku memjawab sang pohon, “jika kau
ingin memberikan dahanmu pada si pipit kecil yang lain, aku tak keberatan.
Apakah kau akan memberikan salah satu dahanmu padanya?” Sang pohon menjawabku
dengan senyuman. Dia tak melakukan apapun.